Love
is just like a box of chocolate you’ll never know what you get,salah satu
petikan quote yang pernah saya baca dan ingin sedikit saya revisi agar senada
dengan tulisan saya karena saya bukan akan membahas cinta. Sudah terlalu banyak
bahasan tentang cinta menurut saya jadi saya ganti kata “love” dengan
“travelling”,jadi setelah saya sedikit modifikasi menjadi?yaps “travelling is
just like a box of chocolate,you never know what you get”. Perjalanan selalu menjadi
sebuah misteri besar,kita tidak akan tahu apa yang akan kita dapatkan,kita
tidak akan tahu orang baru yang akan kita temui,kendala apa,momen apa,pelajaran
hidup yang seperti apa yang bisa kita ambil.
Saya
dibangunkan oleh dentuman musik ala diskotik yang saling bersahutan antar
tetangga. Agak dongkol karena tidak ada 2 jam saya tidur dan sudah harus bangun
lagi dengan cara yang tidak menyenangan dan sangat tidak lazim untuk mengawali
hari. Hari itu memang akan diadakan perayaan, masing masing rumah memasang
pengeras suara dan memutar lagu yang sekiranya dapat menarik perhatian
tetangganya. Untuk sebuah acara khataman menurut saya ini sudah termasuk
kategori “heboh”. Khataman sendiri merupakan acara sejenis syukuran yang
diadakan TPA untuk merayaan kelulusan santrinya.
Kehebohan
demi kehebohan yang saya temui tak hanya sampai disini *setelah house musik
pagi hari,ada sebuah hiasan yang diletakkan diatas kayu panjang berisi lidi
yang ditiap batangnya ditempelkan uang dengan nominal yang beragam mulai dari 2000-50000
juga ada. Hal ini menjadi heboh karena sudah terbayang untuk hiasan ini sajah
sudah memakan nominal uang yang tidak sedikit. Hiasan ini nantinya akan diarak
bersama santri khatam berkeliling desa,hiasan ini juga dibuat bertujuan untuk
menjadi bahan rebutan baik warga dewasa maupun anak-anak karena diyakini bahwa
semakin banyak yang merebut uang itu maka semakin banyak doa yang dihaturkan
untuk si santri dan keluarganya.
Berlanjut
kepada kehebohan selanjutnya yaitu disewanya sebuah iring-iringan musik dengan
alat musik pukul seperti rebana,gendang dan dibawakan toa pada masing masing
rombongan santri yang gunanya untuk melantangkan nyanyian dan puji-pujian pada
sang KHALIK.sudah terbayang seriuh apa?.
Objek kehebohan terakhir adalah Ferari
yang disewa oleh orang tua santri khatam. FERARI?tenang ferari disini tentu
saja bukan mobil mewah ala kaum jetset yang dibuat di italia,melainkan merujuk
pada logonya..yaps!kuda jingkrak.Sama halnya dengan saya,saya pun dibuat kaget
setengah mati. Bagaimana tidak?niat awal saya hanya mengabadikan momen saudara
saya yang sedang khataman tanpa saya tahu tiba-tiba rombongan kuda yang
dibelakang saya dengan serta merta diaba-abakan untuk mengangkat kedua kaki
depanya dan posisi saya persis di jarak jangkauan kaki kuda. Tahu kan bagaiman
kagetnya saya?yang otomatis saya ekspresikan dengan teriakan “EH..BUSETTTTT!!!”
hehehe dalam satu tarikan nafas itu saya seolah olah dibawa ke alam bawah sadar
saya dimana kejadian-kejadian masa lalu diutar lagi di otak saya :D *LOL. Kebayang
kan?kalau kaki kuda itu bersarang pas dibadan saya?apa lagi kena bagian
kepala?atau badan deh yang paling ringan?sesakit apa?ada yang pernah?barangkali
pernah tolong share pengalaman anda ke akun twitter saya yaitu @tukangliburan
#lohhh PROMO?hahaha. Lanjut!!. Seperti yang saya katakan dari awal inilah
asyiknya travelling banyak pengetahuan baru yang bisa kita dapatkan apapun itu
dan tentu saja beberapa kejutan yang bisa kalian ingat dan bagi kepada teman
lainya. Berbekal pengalaman tadi (kejadian keji dimana nyawa saya hampir
terenggut) saya akhirnya menyiasati hal ini dengan menjaga jarak dan
menyesuaikan frame yang saya ambil sehingga tetap mendapat gambar tapi juga
nayawa tetep nempel dibadan.
Rute
iring-iringan ini ternyata juga mengejutkan menurut saya karena jarak tempuhnya
lumayan fantastis yaitu berkeliling desa sebanyak 6 kali!!iya enam kali!!
(sambil jerit pake echo :D ). Membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam untuk
menyelesaikan rute melelahkan ini,kenapa saya tetap ikut? Semacam feeling saja karena
saya merasa ada satu momen pamungkas yang berharga dan tidak boleh terlewatkan.
Dan benar saja saat rombongan iring-iringan hampir sampai di garis akhir terjadi
satu momen pamungkas yaitu kuda ngamuk (gak heran juga 3 jam suruh jingkrak
jingkrak kalo saya juga bakal ngamuk :D ). Akibat amukan kuda ini satu santri
menjadi korban,yaitu santri khatam yang yang menaiki kuda tersebut jatuh dan
mengalami luka ringan *thanks god. Dan saya merasa sangat beruntung karena saya
bercerita tapi juga punya bukti fotonya dan untungnya lagi saya berada di jarak
aman jadi tidak ikut menjadi korban.
“The
real happines is when we share it” –Alex super tramp
@tukang
liburan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar