Tayangan halaman minggu lalu

Jumat, 07 Maret 2014

FERARI Ritual Perayaan Khataman Purworejo



Love is just like a box of chocolate you’ll never know what you get,salah satu petikan quote yang pernah saya baca dan ingin sedikit saya revisi agar senada dengan tulisan saya karena saya bukan akan membahas cinta. Sudah terlalu banyak bahasan tentang cinta menurut saya jadi saya ganti kata “love” dengan “travelling”,jadi setelah saya sedikit modifikasi menjadi?yaps “travelling is just like a box of chocolate,you never know what you get”. Perjalanan selalu menjadi sebuah misteri besar,kita tidak akan tahu apa yang akan kita dapatkan,kita tidak akan tahu orang baru yang akan kita temui,kendala apa,momen apa,pelajaran hidup yang seperti apa yang bisa kita ambil.
Saya dibangunkan oleh dentuman musik ala diskotik yang saling bersahutan antar tetangga. Agak dongkol karena tidak ada 2 jam saya tidur dan sudah harus bangun lagi dengan cara yang tidak menyenangan dan sangat tidak lazim untuk mengawali hari. Hari itu memang akan diadakan perayaan, masing masing rumah memasang pengeras suara dan memutar lagu yang sekiranya dapat menarik perhatian tetangganya. Untuk sebuah acara khataman menurut saya ini sudah termasuk kategori “heboh”. Khataman sendiri merupakan acara sejenis syukuran yang diadakan TPA untuk merayaan kelulusan santrinya.



Kehebohan demi kehebohan yang saya temui tak hanya sampai disini *setelah house musik pagi hari,ada sebuah hiasan yang diletakkan diatas kayu panjang berisi lidi yang ditiap batangnya ditempelkan uang dengan nominal yang beragam mulai dari 2000-50000 juga ada. Hal ini menjadi heboh karena sudah terbayang untuk hiasan ini sajah sudah memakan nominal uang yang tidak sedikit. Hiasan ini nantinya akan diarak bersama santri khatam berkeliling desa,hiasan ini juga dibuat bertujuan untuk menjadi bahan rebutan baik warga dewasa maupun anak-anak karena diyakini bahwa semakin banyak yang merebut uang itu maka semakin banyak doa yang dihaturkan untuk si santri dan keluarganya.




Berlanjut kepada kehebohan selanjutnya yaitu disewanya sebuah iring-iringan musik dengan alat musik pukul seperti rebana,gendang dan dibawakan toa pada masing masing rombongan santri yang gunanya untuk melantangkan nyanyian dan puji-pujian pada sang KHALIK.sudah terbayang seriuh apa?.



 Objek kehebohan terakhir adalah Ferari yang disewa oleh orang tua santri khatam. FERARI?tenang ferari disini tentu saja bukan mobil mewah ala kaum jetset yang dibuat di italia,melainkan merujuk pada logonya..yaps!kuda jingkrak.Sama halnya dengan saya,saya pun dibuat kaget setengah mati. Bagaimana tidak?niat awal saya hanya mengabadikan momen saudara saya yang sedang khataman tanpa saya tahu tiba-tiba rombongan kuda yang dibelakang saya dengan serta merta diaba-abakan untuk mengangkat kedua kaki depanya dan posisi saya persis di jarak jangkauan kaki kuda. Tahu kan bagaiman kagetnya saya?yang otomatis saya ekspresikan dengan teriakan “EH..BUSETTTTT!!!” hehehe dalam satu tarikan nafas itu saya seolah olah dibawa ke alam bawah sadar saya dimana kejadian-kejadian masa lalu diutar lagi di otak saya :D *LOL. Kebayang kan?kalau kaki kuda itu bersarang pas dibadan saya?apa lagi kena bagian kepala?atau badan deh yang paling ringan?sesakit apa?ada yang pernah?barangkali pernah tolong share pengalaman anda ke akun twitter saya yaitu @tukangliburan #lohhh PROMO?hahaha. Lanjut!!. Seperti yang saya katakan dari awal inilah asyiknya travelling banyak pengetahuan baru yang bisa kita dapatkan apapun itu dan tentu saja beberapa kejutan yang bisa kalian ingat dan bagi kepada teman lainya. Berbekal pengalaman tadi (kejadian keji dimana nyawa saya hampir terenggut) saya akhirnya menyiasati hal ini dengan menjaga jarak dan menyesuaikan frame yang saya ambil sehingga tetap mendapat gambar tapi juga nayawa tetep nempel dibadan.






Rute iring-iringan ini ternyata juga mengejutkan menurut saya karena jarak tempuhnya lumayan fantastis yaitu berkeliling desa sebanyak 6 kali!!iya enam kali!! (sambil jerit pake echo :D ). Membutuhkan waktu kurang lebih 3 jam untuk menyelesaikan rute melelahkan ini,kenapa saya tetap ikut? Semacam feeling saja karena saya merasa ada satu momen pamungkas yang berharga dan tidak boleh terlewatkan. Dan benar saja saat rombongan iring-iringan hampir sampai di garis akhir terjadi satu momen pamungkas yaitu kuda ngamuk (gak heran juga 3 jam suruh jingkrak jingkrak kalo saya juga bakal ngamuk :D ). Akibat amukan kuda ini satu santri menjadi korban,yaitu santri khatam yang yang menaiki kuda tersebut jatuh dan mengalami luka ringan *thanks god. Dan saya merasa sangat beruntung karena saya bercerita tapi juga punya bukti fotonya dan untungnya lagi saya berada di jarak aman jadi tidak ikut menjadi korban.



“The real happines is when we share it” –Alex super tramp
@tukang liburan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar