Tayangan halaman minggu lalu

Kamis, 13 Maret 2014

TAEPEKONG Penghormatan pada sebuah kepercayaan

Kebudayaan adalah hasil cipta rasa dan karsa manusia.Nilai-nilai luhurnya merupakan alasan utama kenapa hal ini harus dilestarikan.Kebudayaan sendiri merupakan ungkapan syukur pada sebuah kepercayaa itu sendiri.
Ramai! Itulah yang terjadi tegal siang itu. Jalan utama dari gedung DPRD sampai lampu merah pertama dipenuhi orang yang hendak menonton serta beberapa penjual jajanan pasar,jalan pun diblokade guna menghindari kemacetan dan ancaman terjadinya kecelakaan. Saya terlambat hampir satu jam ( memang sengaja melambat karena anggapan salah tentang sebuah festival yg cenderung sering ngaret ) siang itu. Keramaian penonton ternyata tinggal sebagian ( padahal menurut saya sudah sangat ramai,tapi menurut bapak parkir yang saya temui sebagian kerumunan masyarakat ikut pergi kepelabuhan untuk mengikuti prosesi pencucian patung dewa serta pelarungan sesaji ). Tanpa membuang waktu lagi saya bergegas menyusul kepelabuhan, benar saja suasa tak kalah ramai kami jumpai disana. Sayangnya saya hanya bisa menyaksikan pelarungan sesaji dan penyiraman air bekas pencucian patung ke warga ( sebagian warga meyakini air bekas ini mempunyai berkah tersendiri ). Hal yang saya pelajari untuk momen seperti ini,jangan pernah terlambat dan satu lagi jika proesi ritual melibatkan air jangan sekali kali anda lengah apalagi jika anda mencoba lebih dengan momen prosesi. Kmaera saya hampir menjadi korban penyiraman air yang tentu saja tanpa disengaja oleh bapak yang menyiramkan air karena kondisi memang penuh sesak. Untunglah saya TAMPAN dan rajin menabung makanya dengan sigap saya berhasil membalikkan badan dan menutupi kamera saya,cessss punggung saya basah.DAMN!!AI LOPE INDONESAHHHH ahahaha itu lah yang saya teriakkan setelah punggung saya basah,sebuah kejutan yang menyenangkan dari sebuah perjalanan dan liputan festival.









Selanjutnya setelah ritual pencucian patung dewa dan pelarungan sesaji selesai maka arak-arakan pun dimulai. Panasnya matahari tidak saya rasakan meskipun sekarang cabangnya dimana-mana :D , suguhan yang menarik didepan mata saya terlalu membius. Tarian yang dilakukan sembari membawa tandu patung dewa menjadi pertunjukan utamanya,dengan berat tandu yang tidak enteng hal ini tidak menjadikan suatu kendala bahkan mereka bisa menikmati tarian itu ini yang hebat menurut saya totalitas sebuah keyakinan ( beuhhh ).



















Kembali fokus dengan iring-iringan dewanya yah?hehe. Beberapa warga keturunan yang memiliki keyakinan pada dewa-dewa ini sudah menunggu didepan rumah mereka yang kebetulan menjadi jalur iring-iringan festival,tak lupa dupa sembahyang telah mereka persiapkan,jadi tiap tandu dewa yang lewat mereka hentikan sebentar guna disembahyangi terlebih dahulu dan si pembawa tandu harus bersabar sebentar menahan beban dipundaknyaJ.



Ada sebuah spot yang mengharuskan tandu dewa ini untuk berhenti sebentar, sebuah kuil kecil (jika dibandingkan klenteng) yang terdapat patung budha berwarna emas didalamnya didepan teras kuil nampak sebuah meja panjang berisi buah dan sesaji lainya menyambut rombongan iringingan dewa-dewa kemudian ada juga beberapa orang sudah menunggu untuk memberikan berkat, dan ada juga yang menyembahyangkan tandu tandu dewa ini seraya bersujud didepanya. Iring-iringan kembali beranjak menuju klenteng utama,oh iy saya lupa iringan ini juga disertai dengan rombongan musik tradisional yaps sebuah genderang ala kerajaan china kuno dan sebuah simbah tepuk ( WTF!!) nama aneh hehehe,FYI ini istilah dari saya jadi maaf jika terkesan asal hehe karena memang saya ndak tahu nama alat musik ini apa :D .






Entah saya yang terlalu terpesona dengan sebuah meja sesaji yang berada di depan klenteng atau memang saya yang tidak sadar kalau sudah tertinggal dari rombongan tandu dewa -_-  entahlah yang jelas saya tertinggal rombongan ini dan tidak tahu kemana perginya rombongan ini. Saya baru sadar ketika seorang bapak menggebrak meja yang sedang saya kagumi dan sedang saya abadikan lewat foto,saya fikir bapak itu marah karena saya melewati batas pagar ternyata bukan ternyata itu ritual pengusiran roh halus jahat (jujur saya merasa roh halus yang sedang bapak usir itu saya sendiri lah wong Cuma saya yang ada di dalam pagar pembatas meja :D).










Jelas saya galau karena tertinggal rombongan tapi dasar memang saya tampan akhirnya saya memilih masuk klenteng (yang baru kali ini saya lakukan,terkesan katrok memang yah tapi apa daya sayanya memang katrok sih hahaha). Satu langkah besar saya lakukan dengan melangkah kedalam klenteng dan kejadian ini disaksikan pejabat setempat loh hahaha. Dan entah ada hubungan apa saya dengan meja lagi-lagi saya memotret meja sesaji -_- aneh!!,




kelar urusan meja saya beranikan diri untuk masuk kebagian klenteng lebih dalam lagi ( dengan disaksikan pejabat setempat lagi ) saya cukup tercengang ternyata banyak wisatawan juga didalam (termasuk saya,tapi yang katrok cuma saya sih :v ). Banyak aktifitas keruhanian yang asing namun menarik untuk saya,saya sempat ingin naik ke pelataran altar utama untuk memotret dan kebetulan ada satpamnya jadi saya meminta ijin terlebih dahulu ( ingat!!katrok boleh,sopan?HARUS), oke sebuah kalimat pahit dengan senyum getir sang satpam menghentikan saya melaju naik ke teras altar utama “maaf mas tidak boleh” itu yang pak satpam ucapkan namun saya bisa memaklumi itu,karena mungkin nanti saya hanya akan mengganggu kekhusyukan ibadah pengunjung lain.
Saya mundur dan mengamati altar dari jauh nampak beberapa orang khusyuk berdoa dan bersembahyang disana.



Ada seorang bapak keturunan membakar kertas seperti kwitansi didepan altar jelas saya kepo,saya coba tanya untungnya bapaknya baik hati. Kata si bapak itu (sebut saja bunga) “saya habis nyumbang buat klenteng mas nah ini kwitansi saya kirim ke alam sana buat bukti saya nyumbang,jadi orang lain ndak perlu tahu Cuma saya sama yang diatas yang tahu “ saya jawab pernyataan baapak itu dengan senyum kagum lalu berucap “ oooooo,begitu tohhh “.
Lama berputar-putar di klenteng capek jelas menggerogoti badan saya dan memang waktu yang saya miliki sore itu tidak banyak ( padahal acara dijadwalkan akan berlangsung lagi setelah magrib dengan penyalaan kembang api serta pelepasan lampion,”belum rejekinya” gumam saya dalam hati.
Diluar klenteng saya bertemu tetangga jauh saya,beliau berasal dari kota pemalang kota yang sama dengan saya girang pastinya (padahal tegal-pemalang Cuma 45 menit :D ),dan hal yang membuat saya lebih girang lagi adalah beliau ini ( ibu ini ) menjual jajanan pasar yang sudah lama sekali tidak saya temui. Kerupuk angin namanya,tapi anehnya setelah hijrah ketegal kerupuk ini kok berubah nama menjadi kerupuk idu yang dibahasa indonesiakan menjadi kerupuk ludah, jauh sekali dari nama aslinya apa lagi sama sekali tidak mewakili rasanya yang manis gurih itu. “Kulo tumbas kaleh bungkus bu “ ucap saya dan dijawab “oh nggah mas” di iringi dengan senyum ramah ( maaf percakapan bisa ditranslate lewat google yah J ). Saya rindu sekali dengan jajanan masa kecil saya,sebenarnya yang saya rindukan masa kecil saya namun makanan makanan inilah yang mengiringi masa kecil saya jadi seperti sebuah jembatan untuk mengenang masa lalu yang indah menurut saya.



Tanpa saya sadari gigitan demi gigitan saya nikmati sendiri,saya tidak menawari teman saya karena saya ingin menikmati kerinduan saya sendiri, air mata haru pun menetes tanpa bisa saya bendung,jadi saya seolah olah jika kalian lihat saya sedang di sebuah video klip dimana pemeran laki-lakinya berjalan sambil nangis bedanya saya tambun dan tidak ada pemeran perempuan yang berjalan disamping saya malah yang ada disebelah saya teman saya dan dia cowok :D . Kepingan rindu tentang masa kecil kembali hadir lewat kerupuk angin ini,sebuah perjalanan yang patut diingat karena saya jadi tahu apa itu menghargai keyakinan orang lain,saya jadi tahu keberagaman dan kekayaan budaya bangsa saya sendiri dan yang paling spesial perjalanan singkat kemasa lalu yang di persembahkan oleh ibu penjual kerupuk angin.

@tukangliburan

Tidak ada komentar:

Posting Komentar