Tayangan halaman minggu lalu

Selasa, 22 Agustus 2017

waerebo kota dingin dan berselimut kabut


Siapa yang tidak tahu kampung atas awan di flores ini?waerebo, namanya sudah bergema di penjuru dunia. Kampung kecil di tengah hutan ini berhasil memikat pelancong bukan hanya dalam negeri namun pelancong luar negeri lebih banyak yg tertarik dan mengunjungi tempat ini. Kampung waerebo sendiri terletak di tengah hutan diatas bukit,berjarak 9km dari desa terakhir dimana kami mulai pendakian. Desa denge namanya,desa yg merupakan gerbang masuk pendakian disini jg kalian bisa menyewa porter untuk membantu barang bawaan kalian. Kami?kami sih budget packer boro boro porter makan ajah mie instan haha. perjalanan kami mulai pukul 8 pagi waktu itu, trek awal kami disambut dengan batuan yg ditata karena jalan yg berlumpur jadi untuk memudahkan para pengunjung dan warga waerebo sendiri karena memang warga asli waerebo keluar masuk kampung ya berjalan  kaki 9km,kebayang capeknya ya hahaha...


Medan dengan kemiringa  sekitar 30 derajat membuat nafas kami mulai tersengal apa lagi saya yg memang berbadan seksi,untungnya kami disambut mata air yg benar benar bersih dan sejuk karena memang sumber air sungai ini tidak melewati kampung manapun dan satu satunya kampung yg ada ya waerebo itu. Sungai ini kami temui setelah 2jam perjalanan,beberapa teman ada yg gugur dalam 2 jam pertama ini mereka memikih pulang ke denge dan menunggu kami. Setelah membasuh muka,minum air,isi botol air sampe penuh kamipun melanjutkan perjalanan kami.
Trek berikutnya kami disambut oleh rindangnya hutan dan sejuknya kabut,memang paling favorit bagi saya kalo saya sampai kemakan kabut seperti ini. Berasa invisible ajah dan bisa melihat orang lain tanpa harus terlihat kaya invisible man gt ada yg inget filmhya?malah nglantur haha. Medan hutan begini kami temui sekitar setengah dari total perjalanan kami,jadi tanah batuan rapi 2 jam dan hutan berkabut kami temouh juga dalam waktu 2 jam. 50:50 lah klo ala who wants to be a millionaire.




 Sebelum masuk perkampungan kami singgah dulu di sebuah gazebo yg disediakan oleh warga kampung gazebonya adem ditambhah badan yg kecapean jadi malah enggan bagi beberapa teman untuk lanjut ke kampung disamping karena mereka sudah pernah berkunjung kesana sih sebelumjya.
View dari gazebo
Tapi bagi kami rombongan ende beuhhh jangan harap kami berhenti di tengah jalan,semua lulus ujian jalan 9km ini hahaha. Kami disambut oleh jembatan kayu sebelum masuk perkampungan,teman kami bos ruli biasa kami panggil mengingatkan bahwa dilarang  mengambil gambar setelah menyeberang jembatan ini,sebelum kita bertemu tetua kamoung dan minta ijin untuk bertamu di kampung. Kami jelas manut dan mengiyakan kata bosku itu. Aroma kopi yg disangrai serta bau tanah basah menjadi aroma yg begitu khas saat kami masuk perkampungan. Tanaman itama warga kamoung sini memang kopi dan beberapa sayuran sederhana yg dipKai untuk sekedar penambah lauk. Tak percYa rasanya kami berada di antah beranta di tengah hutan dan diatas awan.
Perjalanan kami berlanjut untuk bertemu tetua adat guna meminta ijin bertamu,kami menyiapkan iuran untuk di berikan pada tetua adat sebagai salam agar kami diperkenankan bertamu,nominalnya terserah sih tapi kami dlu untuk sekitar 20 orang kami kasih 100k ke beliau.selesai urusan adat kami meminta foto bersama beliau,cukup sukses saya rasa kecuali pada bagian foto saya sendiri yg hanya dapat sebelah muka dan itu gindok bgt rasanya. Saya sendiri yg setup kamera yg setup lighting kompo malah saya yang zong..apes emang. 
Saya yg di sebelah kiri gaes cm setengah badan ajah yg ikut, ðŸ˜¢

Ini salah satu teman saya yg numpang foto dan sayabtetep ga di fotoin jg

Ada sebuah rumah yg diperuntukkan bagi para tamu beristirahat dan malah boleh menginap dengan nyaman disini,modelnya lantai bambu kayu beralas karpet dan berselimut tebal sesuai dengan waerebo yg dingin. Untuk yg menginap kami dikenakan biaya 325.000 permalam kalau cum main kami kena biaya 215.000. Dengan biaya ini kita dapat fasilitas makan dan tempat tidir yg nyaman serta kedamaian luar biasa.





Kondisi dalam rumah istirahat

Tikar yg dipakai untuk alas tidur

Satu hall yg paling menakjubkan disini adalah toiletnya gaes. Toilet ala hotel dengan wc duduk lantai batuan akam dan bilik bambu tapi tertutup rapat,gilak ga tun tempat wisata mana di indo yg seajib ini toiletnya?hahaha ga kebayang itu warga gotong wc 9km dr denge sampe waerebo,gotong semen,batu jg busyet dah. Ga usah bingung pokoknya masalah hajat mah disini.
Penjelajahan terbesar adalam mengenal siapa dirimu sendiri @tukangliburan

Jumat, 16 Juni 2017

Pacuan kuda di bulan syawal

Menjelajahi kota kebumen memang selalu menyenangkan jajaran pantai pasir putihnya tak terbantahkan indahnya. Mulai dari karang bolong sampai pantai mengantinya,beberapa pantai baru juga belakangan bermunculan pantai baru yang dikelola dngan serius membuat nama kebumen makin mentereng. Selain jajaran pantai yang sangat indah wisata lain juga dimiliki kebumen yang sangat indah jajaran gua eksotis yg bisa kita jelajahi membuat kita makin menikmati kota ini. Namun ada satu lagi pesona wisata yang dimiliki kota kebumen ini,awalnya daerah ini hanya terkenal olahan kuliner khasnya yang berupa sate,namanya sate ambal ketenaran sate ini sudah tidak diragukan lagi seantero indonesia, sate yang menggunakan sambal campuran berbahan tempe ini mempunyai citarasa yang khas “kebumen banget” manisnya.
Namun daerah ambal ini mmpunyai daya tarik selain hanya sate dan pantainya. Pada tiap bulan syawal ( lebaran) masyarakat ambal diramaikan dengan arena pacuan balap kuda.
 Yaps balap kuda yang selama ini kita kenal dengan budaya sumba ternyata di jwa tngah juga memiliki budaya yang tidak kalah serunya. Pacuan kuda ini digelar selama satu minggu penuh brtempat di lapangan bola kecamatan ambal. Dengan tikt seharga rp 5000 kita bisa menikmati tontonan sru ini dan tentunya “beda” dari yang lain sekedar menikmati pemandangan disini  kita bisa merasakan deg deganya neelihat para atlete balap kuda ini bersaing satu dengan yang lain.


 Untuk lokasinya cukup panas makanya kita wajib bawa topi atau tidak payung trus sun block jg okeh. Ada pagar batas penonton jg dan kita wajib untuk tidak melewati batas ini resiko keselamatan jdi alasanya ga lucu kan berangkat pamit senang senang pulang tinggal nama.










 Sayangnya penataan ketertiban dan petugasnya masih amat kurang jadi beberapa memang masih banyak yang melanggar.



Setelah semua nomor dilombakan para pemenang di sambut langsung oleh bupati kebumen yang menyerahkan hadiahnya. 


Anyway menonton pacuan kuda ini amat sangat rekomendasi buat melengkapi sensasi liburan kalian di kebumen. Yang bingung belum plan setelah lebaran mau liburan kemana, kebumen dan pacuan kuda layak jadi pertimbangan banget loh.

Jumat, 17 Februari 2017

"POO" ritual awal musim tanam

Lama sekali meninggalkan blog ini berhenti menulis dan berbagi tentang cerita di tanah flores. Karena belakangan rasa rindu tanah flores begitu tiggi dan kondisi memang belum terlalu memungkinkan saya beranjak dari rumah inilah saya dengan tulisan sederhana saya. Pagi itu suasana desa mulai ramai bahkan malam sebelumnya saya sudah diberitahu bahwa besok ada pesta adat musim tanam baru. “POO”  kami menyebutnya, seperti banyak suku lainya di Indonesia masyarakat suku “saya” ende memiliki kepercayaan bahwa awal musim tanam harus dilakukan upacara agar nasib sial, hama, dan nenek moyang jahat tidak mengganggu musim tanam kami sampai panen nanti.
Beberapa mama dan bapa sudah berkumpul di halaman rumah bapak marcel kepala desa kami. Bapak mosalaki ( impinan adat) bertugas mengumpulkan derma atau sumbangan gotong royong yang berupa beras, dan tuak.

Ukuranya beragam tergantung kemampuan mungkin? Beras ini nantinya kami masak dan makan bersama dengan hidangan utama kami the “ BABI” . Mengorbankan seekor babi dan beberapa ternak unggas merupakan kewajiban yang ditanggung seluruh warga desa jadi ya tidak terlalu menjadi beban. Upacara dimulai dengan mengorbankan si babi, pekerjaan ini tentu dilakukan oleh para pemuda desa kami.

Para bapa dan mama membuat semacam perhiasan dari daun kelapa untuk nantinya di berikan pada nenek moyang bersama sesaji (  foto).

Tugas memasak kemudan menjadi bagian para mama, dari beras yang di bakar di bambu dan memasak hidangan utama kami. Sementara menunggu para mama selesai para bapa berkumpul berbincang bincang dan menikmati tuak bersama. ( foto)



Acara kami lanjutkan dengan melarung “kapal” yang dibuat bapak mosalaki,kapal ini perumpamaan nasib 
sial bagi kampung kami,caranya adalah kami larungkan dan setelah itu kami lempar dengan batu secara ramai-ramai afar si nasib sial ini karam dan pergi dari kami.





  selesai membantai kami makan sesaji yang dibawa ke tepi sungai lalu kembali ke kampung dengan menabuh bunyi-bunyian yan bertujuan mengusir roh jahat yang tertinggal dari perahu yang karam tadi.

Setibanya di kampung para bapa mosalaki sudah siap menyambut kami dengan beberapa rapalan doa mengusir roh jahat, kemudian berlanjut dengan "meramal" hasil panen kami tahun ini,caranya?dengan menggunakan bambu bekas bakar beras tadi,ada 3 pasang bambu yang sebelumnya sudah dibelah,kemudian oleh para mosalaki di tangkupkan kembali dan secara bersama-sama mereka melempar ketiga bambu itu. Alhamdulillah lebih banyak bambu yang terbuka daripada telungkup,artinya kampung kami akkan panen besar tahun ini YEAH!! 


selesai semua rangkaian adat ini,then the party began,selalu dengan tarian dan tarian awalnya mengitari makam keramat desa kami dan setelah lelah berjoget kami menyantap babi kami haha bon apetite!!