Tayangan halaman minggu lalu

Jumat, 17 Februari 2017

"POO" ritual awal musim tanam

Lama sekali meninggalkan blog ini berhenti menulis dan berbagi tentang cerita di tanah flores. Karena belakangan rasa rindu tanah flores begitu tiggi dan kondisi memang belum terlalu memungkinkan saya beranjak dari rumah inilah saya dengan tulisan sederhana saya. Pagi itu suasana desa mulai ramai bahkan malam sebelumnya saya sudah diberitahu bahwa besok ada pesta adat musim tanam baru. “POO”  kami menyebutnya, seperti banyak suku lainya di Indonesia masyarakat suku “saya” ende memiliki kepercayaan bahwa awal musim tanam harus dilakukan upacara agar nasib sial, hama, dan nenek moyang jahat tidak mengganggu musim tanam kami sampai panen nanti.
Beberapa mama dan bapa sudah berkumpul di halaman rumah bapak marcel kepala desa kami. Bapak mosalaki ( impinan adat) bertugas mengumpulkan derma atau sumbangan gotong royong yang berupa beras, dan tuak.

Ukuranya beragam tergantung kemampuan mungkin? Beras ini nantinya kami masak dan makan bersama dengan hidangan utama kami the “ BABI” . Mengorbankan seekor babi dan beberapa ternak unggas merupakan kewajiban yang ditanggung seluruh warga desa jadi ya tidak terlalu menjadi beban. Upacara dimulai dengan mengorbankan si babi, pekerjaan ini tentu dilakukan oleh para pemuda desa kami.

Para bapa dan mama membuat semacam perhiasan dari daun kelapa untuk nantinya di berikan pada nenek moyang bersama sesaji (  foto).

Tugas memasak kemudan menjadi bagian para mama, dari beras yang di bakar di bambu dan memasak hidangan utama kami. Sementara menunggu para mama selesai para bapa berkumpul berbincang bincang dan menikmati tuak bersama. ( foto)



Acara kami lanjutkan dengan melarung “kapal” yang dibuat bapak mosalaki,kapal ini perumpamaan nasib 
sial bagi kampung kami,caranya adalah kami larungkan dan setelah itu kami lempar dengan batu secara ramai-ramai afar si nasib sial ini karam dan pergi dari kami.





  selesai membantai kami makan sesaji yang dibawa ke tepi sungai lalu kembali ke kampung dengan menabuh bunyi-bunyian yan bertujuan mengusir roh jahat yang tertinggal dari perahu yang karam tadi.

Setibanya di kampung para bapa mosalaki sudah siap menyambut kami dengan beberapa rapalan doa mengusir roh jahat, kemudian berlanjut dengan "meramal" hasil panen kami tahun ini,caranya?dengan menggunakan bambu bekas bakar beras tadi,ada 3 pasang bambu yang sebelumnya sudah dibelah,kemudian oleh para mosalaki di tangkupkan kembali dan secara bersama-sama mereka melempar ketiga bambu itu. Alhamdulillah lebih banyak bambu yang terbuka daripada telungkup,artinya kampung kami akkan panen besar tahun ini YEAH!! 


selesai semua rangkaian adat ini,then the party began,selalu dengan tarian dan tarian awalnya mengitari makam keramat desa kami dan setelah lelah berjoget kami menyantap babi kami haha bon apetite!!