Waktu enam bulan tanpa menghasilkan apa-apa sungguh disesalkan,banyaknya kesibukan alasan membuat saya terlalu nyaman dan larut. Sudah banyak bahan sebetulnya tapi memencet keyboard seolah hal yang taboo sekali saya lakukan,post terakhir saya bulan mei lalu sekarang november -_- .
Materi yang lain sudah di prepare sedangon going ( alasan lagi sebetulnya :D ) tapi nantilahhhhhhh hehehe.
Materi yang lain sudah di prepare sedang
Ini bulan ketiga saya di pulau ENDE NTT surga seribu pantai indah yang memang di anugrahkan TUHAN YME untuk rakyat yang bersahaja ini. Rasa nyaman sangat saya rasakan disni toleransi yang tinggi membuat suasanan yang adem disini meskipun udaranya tidak seadem itu hehe maklum daerah timur. Masyarakat di ENDE ini mayoritas memeluk agama nasrani tapi tak ada isu sara yang menjadi bahasan mereka sehari hari,mereka sudah lebih paham tentang apa itu toleransi bukan hanya tulisan tapi tindakan. Masyarakat katolik disini juga begitu menjunjung tinggi agamanya tapi tanpa menjatuhkan agama yang lain.
Ada suatu ketika saya baru turun dari kampung ( baca hutan ) saya dihadang oleh rombongan polisi yang sedang mengamankan jalan, penasaran saya pun parkirkan si rudy di tempat aman,tanpa buang waktu saya bergegeas menuju kerumunan
Tarian yang unik dan baru pertama kali saya lihat apalagi momenya ditunjukan untuk menyambut kepulangan seorang pemuka agama sungguh penghargaan yang luarbiasa dan baru saya lihat disini di ende ini. Para penari ini menari dengan iringan musik yang keluar dari mulut seorang pemimpin tarian mereka,posisi bapak ini ada dipaling depan dan memegang batang janur atau daun kelapa sambil menggoyangkanya keatas dan kebawah sesuai irama kemudian disambut dengan ketukan bambu yang dipukul pukulkan kejalanan,menjadikan musik dan tarian ini semakin indah. Sementara bapak romo baru ini berjalan pelan dibelakang iringan didampingi oleh seorang mosalaki atau tuan tanah atau pemangku adatnya kalau di ENDE sini.
Selesai menerimasambutan dari orangtua yang diwakilkan oleh bapak, kemudian sang romo pun di papah untuk berdiri diatas mimbar dadakan terbuat dari kayu,beliau menyampaikan beberapa kalimat sambutan berupa ucapan syukur dan terimakasih untuk antusias serta kecintaan masyarakat pada TUHANnya,setelah memberikan sambutan barulah romo diajak untuk masuk kerumah melakukan ritual relanjutnya.
Momen berikutnya adalah kesalahan yang sering sekali saya lakukan yaitu kehabisan baterai hp -_- belum sempat kenalan atau mengikuti prosesi dengn penuh ( meski tanpa sengaja ) bagi saya ketololan yang belum bisa saya obati semoga lain kali saya lebih siap lagi dalam kondisi apapun hehe.
Dan ALLAH menciptakan kita bersuku suku bangsa dan berbeda satu dengan yang lainya agar kita saling mengenal dan menghargai perbedaan itu sendiri @tukang liburan
















Tidak ada komentar:
Posting Komentar