Tayangan halaman minggu lalu

Selasa, 25 Maret 2014

WIDURI carnaval fest



Hari jadi adalah suatu momen istimewa penanda bahwa usia kita bertambah. Doa dan ucapan selamat tak hentinya ditunjukkan untuk kita dalam satu hari itu. Momen hari jadi juga selalu indentik dengan perayaan yang bertujuan “syukuran”.Perayaan hari jadi seseorang bisa jadi seangat meriah,apalagi bila perayaan itu dilakukan oleh sebuah kota?semeriah apa?.
Pemalang,kota grombyang,kota ikhlas begitu sebutan untuk kota kelahiran saya ini. Letak pemalang sendiri sangat strategis karena terletak diantara 3 kota ( Tegal, Pekalongan, Purbalingga) yang mempunyai kebudayaan serta dialek bahasa yang sangat berbeda membuat kota ini memiliki kultur yang unik. Percampuran dialek yang berbeda di tiap perbatasan kota menambah kekayaan kultur pemalang.
menrut nabi berbukalah dengan yang manis jadi artikel ini saya buka dengan foto yang manis dulu :D

Hari jadi Pemalang ke (439) memberi kesan tersendiri pada saya. Widuri carnaval fest itu nama yang diberikan untuk perhelatan akbar kali ini. Sebenarnya kegiatan ini ( festival ) baru dua kali saya alami dan baru dimasa bupati yang sekarang menjabat saya merasakan semacam festival seperti ini di kota saya ini. Sayangnya kegiatan semacam ini tidak rutin tiap tahun diadakan, padahal festival ini bisa menjadi media atau jembatan perkenalan untuk seluruh warga kota mengenal keragaman budaya yang dimiliki kotanya karena pengaruh budaya ketiga kota yang mengapit pemalang juga berbeda satu dengan yang lain.
Saya datang tepat waktu,yakni jam 10 siang besar harapan saya dengan ketepat waktuan saya. Saya sangat berharap bisa mendapat foto-foto tentang persiapan peserta festival tapi kenyataan yang saya dapati jauh dari harapan. Jam 10 tepat lokasi awal festival masih sepi dan hanya beberapa peserta yang sudah hadir dilokasi serta panggung kecil dengan pengeras suara dan tenda, sementara warga yang hendak menonton sudah banyak berdatangan. Banyak sekolah ( peserta) yang belum datang,saya mencoba menghubungi seorang teman yang sekolahnya menjadi peserta festival,cukup terkejut karena ternyata pihak peserta malah mendapat surat edaran untuk datang jam 11 dan murid-muridnya juga masih dalam keaaan belum siap ( make up dan kostum ). Teman saya bergumam “ini mah rubber watch sindrome” atau bisa diartikan sindrom jam karet atau istilahnya ngaret lah hehe. Akibat kejadian ini saya akhirnya udah 2 kali menyepelekan acara festival dengan datang (sengaja) tidak on time,dan apa yang saya dapat ya sisa acara festival. Muncul sebuah pertanyaan dari saya “apa Cuma kota saya yang kena rubber watch sindrome ini?” :D.
barisan paskibra sedang mengatur barisan

nampak seorang tentara berlari,mengejar apa saya ndak tau,yg pasti bukan masa lalunya :D

"oke gengs kita doa dulu ya?" kata sang kapten

"tos dulu gengs!!"HOY!!

YESS!!IM THE CAPTAIN

be prepared


ready?


atraksi muter stik drum coy biar keren :D


im the smilling skull

siap mukul!!


eh kita di foto tuh!! jadi enak :D

kami cadangan nya

horsmen

"cosplay" nyai WIDURI

abang none ala pemalang gan :)

salah satu peserta meminta foto didepan barang displaynya

nampak beberapa bapak dari kantor dinas sedang bercengkrama

3jam saya harus menunggu,kondisi starting poin mulai ramai,saya pun harus mulai sibuk dengan kamera saya. Rasa bosan menunggu 3jam lebih tadi sudah saya lupakan, saya menyusuri langkah tiap kontingen peserta yang berwarna warni dan menampilkan keunikanya.



















“And the shit happens” saking antusiasnya saya dengan memotret peserta festival momen yang seharusnya saya jadikan prioritas malah terlewatkan. Pemukulan genderang tanda mulainya festival oleh bapak bupati tak berhasil saya abadikan dalam frame saya.DAMN!!! Arak-arakan festival pun mulai berjalan,rute yang diambil merupakan jalur utama ke II di pemalang sampai alun alun, dan hari itu jalan terpadat kedua di kota saya  menjadi milik pejalan kaki sepenuhnya. Warga masyarakat sudah berjejer rapi di sepanjang jalan menyambut peserta festival yang memakai kostum berwarna warni.






Saya dengan setengah berlari mencoba menyusul rombongan bupati,bukan apa-apa soalnya saya masih berhutang frame untuk stok tulisan saya yang mengharuskan ada foto pejabat yang terkait dengan daerah tsb. Sialnya rombongan ini tak terkejar,tapi setelah samapi di alun-alun ternyata pasangan bupati dan pejabat daerah lain sudah duduk manis di atas  panggung yang dipersiapkan panitia.

Berlanjut pada acara pamungkas yaitu dimainkanya pertunjukan khas daerah masing-masing didepan sang bupati. Tanpa menunggu lama saya beranikan diri duduk tepat didepan panggung agar dapat foto yang menggunakan angel tanpa background yang mengganggu tentunya hehe. Tiap kontingen peserta memperagakan tarian, musik, kreasi produk lokal, dan hasil bumi khas daerah tersebut guna menunjukan bahwa tanah mereka masih subur dan menghasilkan hasil bumi yang berlimpah. Untuk produk kuliner ada jajanan pasar yaitu  apem cubit dari daerah comah kemudian pemalang juga punya durian dari desa randu dongkal,kesenian tari-tarian lumayan beragam ada ronggeng,ada sintren,bahkan ada tarian perlambang tokoh legenda kota kami yaitu nyai widuri yang sekarang diabadikan untuk nama objek wisata pantai kebanggaan kota kami yaitu pantai widuri. Para dalang menyajikan aksi teatrikal tentang runtuhya kecintaan pada budaya lokal serta banyak lagi yang belum saya sebutkan.























































Kehebohan terjadi saat rombongan tandu yang membawa hasil bumi melintas penonton,tanpa kawalan satpol pp yang ketat penonton yang mulai lapar ini dengan beringas menyerbu tandu-tandu ini,yang seharusnya di jejer untuk dipamerkan dan diberi penilaian,karena inilai telat jadi satpol PP bergerak semampunya.
mereka mulai lapar!!

mereka menggila!!

satpol pp mencoba meredam masa yang mulai lapar!!

lihat tanda panah!! :D



Rangkaian acara pun ditutup dengan ucapan syukur atas acara yang berjalan lancar,kemudian bapak bupati beserta istri membagi bagikan apem cubit kepada masyarakat yang ada.


Doa dan harapan yang baik selalu menjadi hal utama dalam perayaan hari jadi, dan kemajuan pembangunan kota tercinta lah yang saya dan masyarakat lain harapkan.
@tukangliburan.



2 komentar:

  1. Kalau situasi pemotretan dinamis seperti ini, kita sebagai fotografer memang nggak bisa "rakus" mengambil setiap momen, harus fokus ke salah satu momen. Klo saya diajak Pakdhe saya motret yang kayak ginian, biasanya saya diajak ke belakang panggung saat peserta kirab sedang dirias. Memang jadi melewatkan banyak atraksi peserta di jalanan, tapi lebih baik daripada berdesak-desakan. hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. yah memang kecenderungan dan ketertarikan masing masing mas hehe saya juga sebenernya nyari frame prepare tpi trnyata mreka datang ke spoin sudah dalam keadaan rapi jali,semoga tahun depan ada lagi hehe
      dan saya sih ndak masalah berdesakan asal puas hehe

      Hapus